Keberadaan istana ini terbagi atas enam ruang utama dengan jumlah koleksi mencapai 2.500 benda. Ruang Adat merupakan bagian pembuka yang memamerkan diorama pertemuan adat yang kerap dilakukan sultan.
Melangkah ke ruang selanjutnya, ada Ruang Gading, yang menyimpan berbagai peninggalan Kesultanan Siak Sri Indrapura yang didatangkan langsung dari sejumlah negara. Sendok makan misalnya, diimpor dari Jerman, sedangkan piring dikirim dari Perancis.
“Marmer yang digunakan pada lantai istana berasal dari China, sedangkan keramik yang ditempelkan di dinding didatangkan dari Swiss,” jelas Min.
Dari Ruang Gading, pengunjung dituntun memasuki Ruang Kristal, yang dirancang mewah dan klasik. Ruang yang didominasi warna putih itu memiliki meja sepanjang dua meter dengan 12 kursi berwarna pastel yang kerap digunakan permaisuri untuk menjamu para tamu kerajaan. Penggunaan lampu kristal, guci antik asal China, serta 10 cermin raksasa pada Ruang Kristal memperkuat kesan mewah pada keseluruhan tampilan.
Berdampingan dengan meja jamuan, dipajang patung Ratu Wilhelmina asal Belanda yang merupakan kenang-kenangan Sang Ratu untuk Sultan Syarif Kasim II. Patung itu, menurut cerita Sukri, merupakan perwujudan kisah kasih tak sampai antardua pemimpin kerajaan itu. “Sultan Syarif Kasim II itu rupawan. Penampilan fisik itulah yang memikat hati Ratu Wilhelmina. Sayangnya, perjalanan cinta keduanya harus kandas karena perbedaan keyakinan. Agar dapat saling mengenang, keduanya sepakat untuk saling bertukar patung diri,” papar Min.
Masih di Ruang Kristal, tepatnya di sudut kiri ruangan, dipajang cermin antik berbahan kristal dengan ukuran panjang 40 sentimeter dan lebar 30 sentimeter. Cermin tersebut merupakan hadiah Sultan Syarif Kasim II untuk sang permaisuri. “Konon, siapa saja yang becermin di cermin kristal ini dipercaya akan awet muda,” ungkap Min.
Dari Ruang Kristal, pengunjung dapat melanjutkan perjalanan ke Ruang Menginap di lantai dua. Untuk menuju ruang ini, pengunjung harus melewati tangga melingkar berwarna kuning menyala setinggi enam meter dengan lebar 80 sentimeter. Tangga ini didatangkan khusus dari Belanda.
Ruang Menginap membentuk lorong dengan empat bilik utama di kedua sisinya, serta ruang pamer di ujung koridor yang menghadap balkon. Keempat kamar berbahan kayu giam itu dibiarkan tanpa perabotan dan kini difungsikan sebagai ruang pamer yang memajang berbagai koleksi pribadi sultan dan keluarga.
Di sana dipajang berbagai foto keluarga kerajaan, foto kegiatan kenegaraan, pedang kerajaan, pakaian dan sepatu permaisuri, rompi yang pernah dikenakan Sultan Siak IX saat masih bayi, peralatan memasak, lonceng penentu waktu, dan foto-foto Ratu Wilhelmina.
Tur di istana ini dapat dilanjutkan ke Ruang Tamu Sultan di lantai satu yang berdampingan dengan Ruang Kristal. Namun, sebelum itu, pengunjung dapat melihat sebuah brankas tua berbahan baja produksi Jerman yang ditempatkan persis di bawah tangga. Berbagai cara dilakukan untuk mengetahui isi brankas setinggi dua meter dan lebar satu meter itu.
“Pernah coba dibor tetapi mata bor malah patah. Mendatangkan orang pintar dari Banten juga sia-sia. Terakhir, sejumlah ahli dari Institut Teknologi Bandung (ITB) mencoba untuk memindai brankas ini menggunakan pencitraan digital yang mampu menangkap gambar hingga kedalaman dua meter. Sayangnya, usaha itu juga sia-sia,” ujar Min.
Ruang Tamu Sultan memajang sebuah meja jati dengan panjang tujuh meter dan lebar 1,5 meter. Meja yang memiliki tuas untuk mengatur ukurannya itu, kata Sukri, merupakan produksi lokal yang dirancang oleh desainer lokal pula. Sebagai pelengkap, tersedia 14 kursi mengitari meja, lampu kristal, dan singgasana sultan bersepuh emas 24 karat yang dipamerkan dalam sebuah lemari kaca transparan.
Keistimewaan lain Ruang Tamu Sultan ini terletak pada ornamen simbolis yang disisipkan pada dindingnya. Patung anjing yang menggigit kelinci dan burung misalnya, bermakna penolakan Kesultanan Siak Sri Indrapura terhadap Pemerintahan Kolonial Belanda.(Bersambung)








Komentar