Riau, analisasiber.com, – Kejayaan Kesultanan Siak Sri Indrapura memang telah berakhir lebih dari tujuh dekade silam. Namun, pada abad ke-18, kesultanan yang dibangun oleh Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah pada tahun 1723 itu tersohor sebagai kerajaan bahari nan tangguh. Ia menancapkan pengaruhnya di 12 kawasan, dari Sumatera, Semenanjung Melaya, hingga Sambas-Kalimantan Barat.
Pasca-kemerdekaan Indonesia, Sultan Syarif Kasim II, yang merupakan raja terakhir Kesultanan Siak Sri Indrapura, memutuskan turun takhta dan menyerahkan kerajaannya kepada Pemerintah Indonesia. Komitmen itu, menurut Trip Sukri, Pramuwisata Istana Asherayah Al Kasimiyah, ditandai dengan penyerahan mahkota serta aset kerajaan senilai 13 juta gulden kepada Presiden Soekarno.
Menyatu dengan Indonesia, Siak kemudian berstatus kewedanaan, yang secara administrasi berada di bawah kabupaten dan di atas kecamatan. Sekitar tahun 1999, melalui Undang-Undang Nomor 53 Tahun 1999, status Siak dinaikkan menjadi kabupaten yang menaungi 14 kecamatan di bawah Provinsi Riau.
Meski era kejayaan Kesultanan Siak Sri Indrapura telah lama berakhir, jejaknya masih terselip di sejumlah sudut kota. Istana Asherayah Al Kasimiyah yang pada masa lalu tercatat sebagai istana termegah di Riau merupakan salah satunya. Selain itu, terdapat kawasan Pecinan dan Kelenteng Hock Siu Kiong, yang mencerminkan solidaritas sultan terhadap bangsa pendatang, serta Masjid Syahabuddin, yang menggambarkan penyebaran agama Islam di Siak.
Romantisisme Istana Matahari Timur
Siak merupakan destinasi menarik untuk disambangi. Selain letaknya strategis, sekitar 2,5 jam berkendara dari Pekanbaru (Ibu Kota Riau), kawasan ini juga sarat peninggalan bersejarah. Istana Asherayah Al Kasimiyah atau Istana Siak merupakan satu di antaranya.
Sejarah istana ini bermula dari keinginan Sultan Syarif Kasim Abdul Jalil Syaifuddin membangun istana baru pasca-naik takhta sekitar tahun 1889. Menurut Sukri, desain arsitektur istana dipercayakan kepada arsitek asal Jerman. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila desain istana ini merupakan perpaduan gaya rancang bangun Eropa, Timur Tengah, dan Melayu.
Nuansa Eropa diaplikasikan pada penggunaan jendela raksasa, kaca mozaik, dan langit-langit setinggi enam meter. Sementara gaya Timur Tengah digunakan pada fasad dan rupa bangunan yang menyerupai benteng abad pertengahan. Uniknya, pada puncak istana, terdapat enam patung burung elang yang melambangkan keberanian Kesultanan Siak Sri Indrapura.
Dibutuhkan waktu empat tahun untuk dapat menyelesaikan pengerjaan istana berluas 32.000 meter persegi itu. “Cukup lama memang, mengingat sebagian besar material dan perabotan didatangkan dari luar negeri. Pada zaman itu, moda transportasi antarnegara hanya melalui laut, yang membuat pengiriman barang membutuhkan waktu enam bulan hingga setahun,” kata Min. (Hendri)
(Bersambung)








Komentar