Tapanuli Selatan, Sumut: analisasiber.com, – Matahari baru saja naik sepenggal, namun peluh sudah membasahi kening Bunda Manis (nama samaran), seorang Kader Pembangunan Manusia (KPM) di Desa Batu Godang. Di tangannya, tumpukan berkas pemantauan BATITA dan Balita beradu dengan tas berisi alat ukur lingkar lengan. Hari ini, ia harus mendatangi tiga rumah warga di pelosok desa yang jalannya hanya berupa jalan setapak berbatu.
Kisah Bunda Manis adalah potret umum bagi para kader Posyandu dan KPM di Desa Batu Godang. Tanggung jawab mereka kini tak lagi sebatas menimbang bayi atau membagikan biskuit tambahan. Seiring dengan transformasi kesehatan, pundak para kader ini dipaksa memikul beban yang jauh lebih berat: mengawal seluruh siklus kehidupan manusia.
Beban yang Meluas
Dahulu, Posyandu identik dengan kesehatan ibu dan anak (KIA). Kini, cakupannya meluas drastis. Berdasarkan arah kebijakan pelayanan kesehatan primer yang baru, Posyandu dan KPM bertanggung jawab memastikan masyarakat tetap sehat di setiap fase kehidupan.
“Kami harus memantau semuanya. Mulai dari ibu yang masih mengandung, bayi baru lahir, anak-anak, remaja dengan segala problematika gizinya, orang dewasa, hingga lansia,” ujar salah satu kader senior di Batu Godang.
Tidak hanya itu, mereka juga harus memastikan layanan ini menyasar semua gender, baik laki-laki maupun perempuan. Di Batu Godang, medan yang luas dan akses yang terbatas membuat tugas ini menjadi “perjalanan fisik” yang melelahkan setiap harinya.
Meniti Beban Tanpa Topangan
Meski tugas kian menggunung, “topangan” yang diterima para kader dirasa masih sangat minim. Istilah “Pikul Lelah” menjadi gambaran nyata betapa besarnya dedikasi yang mereka berikan dibandingkan dengan apresiasi atau fasilitas yang diterima.
KPM dan kader sering kali harus bekerja dengan alat timbang yang sudah tua, insentif yang sering terlambat—atau bahkan jauh dari kata layak—serta minimnya pelatihan teknis untuk menghadapi kompleksitas masalah kesehatan di seluruh siklus hidup. Mereka adalah ujung tombak, namun sering kali merasa berjalan sendirian di garda terdepan tanpa perlindungan dan dukungan sarana yang memadai.
Harapan untuk Perubahan Layanan kesehatan menyeluruh dari kandungan hingga lansia adalah cita-cita mulia untuk menciptakan generasi yang tangguh. Namun, di Desa Batu Godang, cita-cita itu saat ini masih ditopang oleh keikhlasan para kader yang mulai letih.
Warga dan para kader berharap ada perhatian lebih dari pemerintah daerah maupun desa. Bukan sekadar menuntut laporan yang rapi di atas kertas, tapi juga memperhatikan kesejahteraan dan alat pendukung kerja mereka. Sebab, tanpa topangan yang kuat, pundak para kader ini dikhawatirkan tak lagi sanggup menahan beban transformasi kesehatan yang kian berat./Red/













Komentar