oleh

“Sosialisasi Minim, Warga Tondong Tallasa Keliru Soal Bansos ATENSI YAPI”

banner 468x60

 

“Sosialisasi Minim, Warga Tondong Tallasa Keliru Soal Bansos ATENSI YAPI”

banner 336x280

ANALISASIBER. COM. Pangkep, pada tanggal 7 November 2025, menjadi saksi penyaluran bantuan sosial yang diharapkan membawa secercah kelegaan bagi warganya. Kementerian Sosial (Kemensos) Republik Indonesia, melalui program ATENSI YAPI (Atensi untuk Anak Yatim Piatu dan Disabilitas), kembali menggelontorkan dana bantuan yang ditujukan untuk meringankan beban ekonomi mereka yang paling rentan. Bantuan senilai Rp 1,4 juta per kepala keluarga, ditambah dengan biaya transportasi Rp 100 ribu, mulai disalurkan.

Tahun ini, saldo bansos ATENSI YAPI 2025 telah mulai mengalir ke rekening bank penyalur yang bekerja sama dengan pemerintah, seperti Bank Mandiri dan Bank BRI. Selain itu, di beberapa wilayah, termasuk di Pangkep, pencairan juga dapat dilakukan melalui PT Pos Indonesia, membuka akses yang lebih luas bagi para penerima manfaat.

Namun, di balik upaya pemerintah untuk memberikan dukungan, kabut kebingungan masih menyelimuti sebagian masyarakat di Tondong Tallasa. Masih banyak warga yang berasumsi bahwa bantuan ATENSI ini adalah bagian dari Program Keluarga Harapan (PKH). Perbedaan mendasar antara kedua program ini, yang kerap disalurkan di lokasi yang sama, terkadang luput dari pemahaman warga, sehingga menimbulkan kontroversi.

Beberapa warga di Tondong Tallasa bahkan mengklaim bahwa proses penyaluran bansos oleh pihak terkait terkesan lamban dan bahkan “dipaksakan”. Mereka bersikeras bahwa bantuan yang mereka terima adalah PKH, bukan ATENSI sebagaimana yang seharusnya.

Setelah upaya konfirmasi dilakukan ke Dinas Sosial Kabupaten Pangkep, terungkaplah bahwa program ATENSI ini memang memiliki sasaran yang spesifik. “Jumlah penerima sebanyak 220 orang, senilai Rp 1.400.000 ditambah uang transportasi Rp 100.000,” jelas (seorang perwakilan dari dinas sosial) . “Penyaluran bansos ATENSI berbeda dengan PKH, Pak. ATENSI ini khusus untuk anak yatim dan disabilitas.”

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa bantuan ini berasal dari “Sentra Gauk Ma’Baji Gowa” yang memiliki cakupan kerja di beberapa kabupaten, termasuk Gowa, Pangkep, Pinrang, Sidrap, Parepare, dan Palopo. Sasaran penerima utama dari sentra ini adalah lansia dan anak penyandang disabilitas.

Adanya penunjukan toko tertentu sebagai titik penyaluran untuk memudahkan administrasi pelaporan dan pertanggungjawaban kepada pihak penanggung jawab juga menjadi sorotan. Penanggung jawab menjelaskan bahwa penunjukan satu toko bertujuan untuk mempermudah petugas di lapangan dalam mengumpulkan bukti tercetak (print-out) dari setiap transaksi. “Kalau kita sebar di beberapa toko, petugas akan kesulitan karena harus mengumpulkan bukti print dari masing-masing toko. Makanya ditunjuk toko yang memiliki fasilitas print-out bukti belanja, layaknya di minimarket seperti Indomaret dan Alfamart,” urainya.

Ada tiga di toko kami Tunjuk
1 sembako toko sejahtera
2 sandang di toko indo murah
3 kipas angin kursi, lemari dan alat dapur lainnya di toko 88

Meskipun niat baik pemerintah melalui program ATENSI YAPI patut diapresiasi, sosialisasi yang lebih intensif dan edukasi yang mendalam kepada masyarakat mengenai perbedaan program bantuan sosial yang ada menjadi krusial. Hal ini akan meminimalkan kesalahpahaman, mengurangi potensi kontroversi, dan memastikan bahwa bantuan yang disalurkan benar-benar sampai kepada tangan mereka yang berhak, membawa harapan dan dukungan yang tulus bagi anak-anak yatim piatu dan penyandang disabilitas di Tondong Tallasa dan seluruh Indonesia.

Muh. Ridwan

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *