Analisasiber.Com |Jakarta — Perjalanan internasional buku Rasa Bhayangkara Nusantara atau Taste of Nusantara: 80 Bhayangkara Menu for Indonesia’s Free Nutritious Meals Program terus menunjukkan progres yang signifikan sebagai instrumen diplomasi budaya Indonesia. Setelah menjangkau Eropa, Amerika, Timur Tengah, dan Jepang, kini buku tersebut resmi hadir di Korea Selatan, menandai perluasan strategis gastrodiplomasi Indonesia di kawasan Asia.
Kehadiran buku ini merupakan bagian dari rangkaian perjalanan global yang diinisiasi oleh Dirgayuza Setiawan, B.Med.Sc., M.Sc., Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisa Kebijakan, bersama Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo. Dalam berbagai lawatan internasional—mulai dari London, forum World Economic Forum di Davos, Washington D.C., hingga Jeddah, serta penguatan kerja sama di Jepang—buku ini secara konsisten diperkenalkan sebagai wajah baru diplomasi Indonesia.
Wakapolri menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari strategi besar diplomasi nasional yang mengedepankan pendekatan inovatif.
“Perjalanan Rasa Bhayangkara Nusantara dari Eropa, Amerika, Timur Tengah, Jepang hingga Korea Selatan menunjukkan bahwa Indonesia mampu menghadirkan pendekatan baru dalam diplomasi—melalui gastrodiplomasi yang menggabungkan kebijakan, budaya, dan nilai kemanusiaan. Buku ini merupakan kontribusi nyata untuk memperkuat posisi Indonesia di mata dunia,” ujarnya.
Ekspansi terbaru ke Korea Selatan dilanjutkan oleh Dirgayuza Setiawan melalui penyerahan buku kepada Duta Besar Republik Indonesia untuk Korea Selatan, Cecep Herawan, di Seoul. Momentum ini menjadi simbol penguatan kolaborasi bilateral, khususnya dalam bidang kebijakan publik dan pengembangan sumber daya manusia.
Dalam kesempatan tersebut, Dirgayuza menyampaikan:
“Buku Taste of Nusantara dan Pangan Biru MBG kami hadirkan sebagai sarana berbagi pengetahuan sekaligus memperkaya dialog kebijakan. Korea Selatan menjadi mitra pembelajaran penting dalam implementasi Program Makan Bergizi Gratis.”
Ia menjelaskan bahwa Korea Selatan telah lebih dahulu mengimplementasikan program serupa dalam skala nasional, dengan alokasi anggaran yang besar dan proses pembangunan sistem yang berlangsung bertahap selama kurang lebih dua dekade. Program tersebut kini telah menjadi bagian dari kultur masyarakat, termasuk melalui sistem dapur sekolah yang terintegrasi dan berkelanjutan.
“Pengalaman Korea Selatan memberikan pelajaran berharga bagi Indonesia, khususnya dalam membangun sistem yang kuat, terstruktur, dan berorientasi jangka panjang,” tambahnya.
Perjalanan global Rasa Bhayangkara Nusantara kini membentuk lintasan diplomasi yang semakin kokoh:
London — Penguatan diplomasi kultural Indonesia di Eropa
Davos — Representasi Indonesia dalam forum World Economic Forum
Washington D.C. — Dukungan terhadap diplomasi kenegaraan
Jeddah — Perluasan pengaruh di kawasan Timur Tengah
Jepang — Penguatan kemitraan strategis bilateral
Korea Selatan — Ruang kolaborasi dan pembelajaran implementasi MBG
Setiap titik perjalanan tersebut menegaskan bahwa buku ini tidak sekadar karya kuliner, melainkan instrumen komunikasi kebijakan yang efektif di panggung global.
Ditulis bersama oleh Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo dan Dirgayuza Setiawan, Rasa Bhayangkara Nusantara menghadirkan 80 menu bergizi dari berbagai daerah di Indonesia. Buku ini sekaligus merepresentasikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai kebijakan prioritas nasional yang mengintegrasikan aspek kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan sosial.
Dirgayuza menegaskan:
“Buku ini kami hadirkan sebagai jembatan komunikasi kebijakan Indonesia kepada dunia—melalui bahasa budaya yang universal dan mudah dipahami lintas bangsa.”
Gastrodiplomasi sebagai Wajah Baru Indonesia
Rasa Bhayangkara Nusantara menjadi simbol transformasi pendekatan diplomasi Indonesia—dari yang konvensional menuju pendekatan yang lebih humanis, inklusif, dan berbasis budaya. Melalui gastrodiplomasi, Indonesia tidak hanya memperkenalkan kekayaan kuliner, tetapi juga menyampaikan nilai, kebijakan, dan visi kebangsaan.
Dari London hingga Seoul, perjalanan buku ini menegaskan satu pesan utama: bahwa kebijakan strategis dapat dikomunikasikan melalui budaya, bahwa keamanan dan kemanusiaan berjalan beriringan, serta bahwa Indonesia hadir di panggung global dengan identitas yang kuat, inovatif, dan relevan.
Hal ini menjadi wujud nyata peran Polri bersama pemerintah, tidak hanya dalam menjaga stabilitas keamanan, tetapi juga sebagai aktor aktif dalam membawa inovasi kebijakan dan identitas bangsa ke tingkat internasional.
( St. Aisyah )














Komentar