BUNGORO, PANGKEP ~ Analisasiber.Com ~ Suasana Festival Literasi Pangkep 2026 resmi berakhir pada Kamis (22/10/2026) sore. Penutupan kegiatan yang berlangsung di halaman Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Terminal Baru Bungoro, itu berlangsung khidmat, meriah, dan penuh apresiasi.
Sambutan penutupan dibacakan oleh Staf Ahli Bupati Pangkep Bidang Pemerintahan, Hj. Najemiah, SP., yang hadir mewakili Pemerintah Kabupaten Pangkep. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Festival Literasi Pangkep 2026 bukan sekadar agenda seremonial, melainkan wujud nyata tumbuhnya semangat literasi yang berkelanjutan, inklusif, dan melibatkan berbagai elemen masyarakat.
Mengawali sambutannya, Hj. Najemiah, SP., mengajak seluruh hadirin untuk memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT atas terselenggaranya festival tersebut dalam suasana sehat, penuh kebersamaan, dan semangat untuk terus mengembangkan budaya literasi.
“Pertama-tama, marilah kita memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kita dapat hadir bersama dalam acara penutupan Festival Literasi Pangkep dalam keadaan sehat dan penuh semangat kebersamaan. Selawat dan salam senantiasa kita curahkan kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad SAW, sebagai suri teladan bagi umat manusia,” ucap Hj. Najemiah, SP.,
Ia juga menyampaikan penghormatan kepada jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), praktisi pendidikan, pegiat literasi, pustakawan, para pelajar, serta masyarakat yang telah berpartisipasi dan memeriahkan festival selama tiga hari, sejak 20 hingga 22 Oktober 2026.
Menurutnya, partisipasi berbagai kalangan tersebut menjadi bukti bahwa literasi di Kabupaten Pangkep terus berkembang sebagai gerakan bersama yang tidak terbatas pada aktivitas membaca dan menulis, tetapi juga mencakup pengembangan kreativitas, pelestarian budaya, peningkatan kualitas hidup, serta penguatan kapasitas masyarakat.
“Selama pelaksanaan festival ini, kita telah menyaksikan berbagai kegiatan inspiratif, mulai dari gelar wicara literasi, bedah buku, lokakarya perpustakaan, pentas seni, donor darah, pemeriksaan kesehatan gratis, hingga pameran karya kreatif masyarakat dan pelajar. Semua itu menunjukkan bahwa semangat literasi di Kabupaten Pangkep terus maju,” tegasnya.
Literasi sebagai Gerakan Bersama
Beragam kegiatan yang diselenggarakan selama festival memperlihatkan bahwa literasi memiliki ruang yang luas untuk tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat. Perpustakaan tidak hanya menjadi tempat membaca dan menyimpan buku, tetapi juga dapat berperan sebagai pusat pembelajaran, kreativitas, pertukaran gagasan, serta pemberdayaan masyarakat.
Semangat tersebut tercermin dalam keterlibatan pelajar, tenaga pendidik, pegiat literasi, komunitas seni, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta berbagai unsur masyarakat lainnya. Kolaborasi ini menjadi modal penting untuk memperluas akses terhadap pengetahuan sekaligus menumbuhkan kebiasaan membaca dan menulis sejak dini.
Kemeriahan acara penutupan semakin terasa melalui penampilan Tari Padduppa Bosara yang dibawakan oleh tujuh penari muda dengan balutan kostum merah berhias ornamen keemasan. Tarian tradisional Bugis-Makassar yang identik dengan penyambutan tamu tersebut menghadirkan nuansa budaya yang kental sekaligus menjadi simbol penghormatan, kebahagiaan, dan rasa syukur atas terselenggaranya festival.
Festival Literasi Pangkep 2026 diprakarsai oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pangkep di bawah kepemimpinan Abbas Hasan, AP., MM, dengan dukungan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Nonfisik Tahun Anggaran 2026.
Selama tiga hari pelaksanaan, festival ini menghadirkan beragam kegiatan yang memadukan penguatan literasi, pelestarian warisan budaya, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta pelayanan sosial.
Pengunjung tidak hanya disuguhi pameran buku dan kegiatan edukatif, tetapi juga pameran benda pusaka berupa keris dan badik berusia ratusan tahun, puluhan stan UMKM lokal, layanan beras murah dari Kodim, serta panggung seni pelajar yang menampilkan beragam karya, termasuk pembacaan puisi berjudul “Guruku Cahaya dalam Senyap”.
Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa festival literasi dapat menjadi ruang perjumpaan antara pengetahuan, kebudayaan, kreativitas, dan kepedulian sosial. Melalui kegiatan yang beragam, masyarakat diajak memahami bahwa literasi bukan hanya tentang kemampuan membaca teks, melainkan juga tentang memperluas wawasan, mengasah daya kritis, menghargai warisan budaya, dan mengambil peran aktif dalam kehidupan bermasyarakat.
( St. Aisyah )














Komentar