TAPANULI SELATAN, SUMUT: analisasiber.com, – Delapan bulan telah berlalu sejak banjir bandang dan longsor hebat melumat Desa Huta Godang, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan pada akhir November 2025 lalu. Namun hingga hari ini, pemulihan ruang hidup warga terdampak dinilai berjalan lamban dan sarat akan hambatan birokrasi Pemerintah Daerah.
Warga korban bencana masih dipaksa bertahan di ketidakpastian, mengandalkan bantuan darurat, dan hidup di masa transisi yang berkepanjangan.
Bencana akhir tahun lalu itu menyisakan trauma mendalam dan kehancuran total.
Pemukiman warga luluh lantak, lumpur pekat dan tumpukan material kayu merusak parah ribuan rumah hingga nyaris hilang terbenam.
Ironisnya, setelah lebih dari setengah tahun, pemenuhan hak-hak dasar warga seperti Jaminan Hidup (Jadup) dan kepastian tempat tinggal yang layak masih belum selesai, sehingga memicu kritik atas respons cepat tanggap pemerintah setempat.
Merespons keluhan warga yang telantar, Tim Pendamping Gabungan bersama DT Peduli kini harus turun tangan ekstra. Mereka terus berkejaran dengan waktu untuk mendesak Pemda dan memotong birokrasi yang dinilai berbelit.
Berikut adalah tiga potret krusial lambatnya penanganan yang baru diadvokasi di lapangan hari ini:
Sengkarut Administrasi Jaminan Hidup (Jadup) Berkas administrasi warga baru bisa diserahkan secara resmi kepada Dinas Sosial Kabupaten Tapanuli Selatan hari ini.
Keterlambatan ini menunjukkan panjangnya proses verifikasi yang harus dilalui warga, padahal bantuan nominal per jiwa per Kepala Keluarga (KK) tersebut merupakan penyambung hidup utama yang sangat mendesak.
Ketidakpastian Rumah Transisi dan Ancaman PengusiranBanyaknya rumah yang hilang memaksa pengungsi mengontrak tanpa kejelasan hukum.
Tim lapangan masih harus melakukan validasi data dan mengajukan draf kerja sama legalitas ke Pemda demi mengunci harga sewa.
Langkah ini terpaksa dilakukan secara swadaya guna mencegah pembatalan sepihak oleh pemilik kontrakan, yang berisiko membuat pengungsi telantar untuk kedua kalinya.
Sawah Hancur dan Irigasi Lumpuh Selama 8 BulanSektor pertanian yang menjadi urat nadi ekonomi warga desa huta godang mati total selama delapan bulan terakhir akibat tertimbun material longsor.
Peninjauan titik lahan rusak berat bersama Dinas Pertanian baru dilakukan hari ini.
Warga mengeluhkan lamanya respons teknis untuk penentuan titik awal normalisasi saluran irigasi, yang membuat petani kehilangan mata pencaharian dalam waktu yang sangat lama.
Pemulihan Desa Huta Godang bukan sekadar membersihkan puing, melainkan mengembalikan martabat dan hak hidup warga Batang Toru yang terabaikan.
Sinergi mendesak antara tim lapangan, Pemda Tapanuli Selatan, Dinas Sosial, dan Dinas Pertanian kini dituntut nyata.
Pemerintah daerah didesak untuk memangkas birokrasi yang kaku agar bantuan rumah hunian sementara, pencairan dana jadup, serta pemulihan sawah warga dapat terealisasi secepatnya tanpa janji-janji manis semata.(Hendri)








Komentar